Mengenal Lebih Dekat Dengan Cash In - Cash Out
Cash in dan cash out merupakan istilah lain dari pemasukan dan pengeluaran. Di dalam kehidupan sehari-hari, kita sudah familiar dengan istilah tersebut. Dalam Cashflow Management for Ourself, pemasukan dan pengeluaran adalah unsur penting dan memegang posisi teratas. Secara ideal, kita tentu mengharapkan sebuah kondisi di mana pengeluaran lebih kecil daripada penerimaan. Dengan demikian akan tercipta suatu keadaan yang disebut cashflow positif.
Namun pada kenyataanya, menciptakan kondisi cashflow positif tersebut bukanlah sebuah hal yang mudah, meskipun sebenarnya bisa dikatakan tidak sulit. Salah satu penyebabnya karena manusia adalah makhluk yang sangat pandai dalam segala hal, termasuk dalam membuat alasan atau mencari pembenaran. Benar tidak? Misalnya, saat kita masih berstatus pelajar atau mahasiswa dan ditanya oleh orangtua, "mengapa tidak menabung sebagian uang saku yang diterima?" Kemudian biasanya kita akan menjawab, "uang sakunya tidak cukup untuk kebutuhan sehari-hari sebagi pelajar dan mahasiswa, apalagi untuk menabung". Mungkin kita juga akan menambahi jawaban dengan, "saya akan setelah bekerja nanti".
Saat sudah bekerja namun penghasilan pas-pasan, pertanyaan yang sama kita terima. Kemudian, saat itu jawaban kita juga mungkin sama. "Bagaimana mungkin bisa menabung dan menyisihkan gaji, lha wong buat kehidupan sehari-hari saja sulit". Kita pun berusaha mencari pekerjaan yang menjanjikan income atau penghasilan yang lebih besar dan Alhamdulillah, kita mendapatkan apa yang kita inginkan. Kemudian, lagi-lagi pertanyaan yang sama muncul karena kita mungkin juga melakukan hal yang sama. "Mengapa tetap tidak bisa menyisakan penghasilan yang jumlahnya besar tersebut?" Oleh karena itu manusia yang pintar mencari pembenaran, mungkin kita akan menjawab bahwa seiring dengan bertambahnya usia, kebutuhan pun semakin banyak, seberapa besar penghasilan kita, tetap tak bisa menyisakannya. Dan seterusnya. Tentu tidak semua orang demikian, namun contoh di atas adalah kasus yang sering terjadi di masyarakat.
Bila diibaratkan dengan sebuah keran, cash in dan cash out adalah keran air. Bila keran air tersebut dibuka lebar seluruh air akan tumpah dan kita akan basah. Namun, bila keran sama sekali tidak dibuka kita akan kering dan kehausan. Sebaiknya, kita membuka keran di waktu yang tepat serta dalam porsi yang secukupnya, tidak terlalu lebar dan juga tidak terlalu sempit. Sama halnya dengan penghasilan yang diperoleh, bila tidak digunakan sama sekali maka kita tidak bisa memenuhi kebutuhan hidup. Namun, bila menggunakannya untuk hal-hal yang tidak bermanfaat, hal itu sama saja dengan membuang uang di sepanjang jalan, walaupun sebenarnya uang tersebut masih dibutuhkan.
Nyatanya, tidak mudah mengatur keuangan pribadi. Mungkin banyak diantara kita yang selalu mengeluh tidak cukup atau selalu merasa kurang terhadap penghasilan yang diperoleh. Ehm..., mari kita renungkan. Benarkah kita memang kekurangan? Apakah kita tidak makan? Apakah kita tidak bisa membeli pulsa? Apakah kita tidak bisa jalan-jalan? Apakah kita tidak memiliki apa-apa? Jawabannya lebih banyak "tidak" daripada "ya". Ketika sebagian dari kita mengeluh penghasilannya kurang, nyatanya setiap hari kita dapat makan di restoran mahal. Ketika sebagian dari kita mengeluhkan gaji yang pas-pasan, nyatanya kita masih bisa ganti HP dengan struktur yang lebih canggih. Kemudian, ketika sebagian besar diantara kita begitu susah menyisihkan penghasilan walau hanya sebesar Rp 100.000,00, nyatanya kita mampu pergi ke spa dengan budget di atas Rp 100.000,00. Jadi?
Kebutuhan Yang Unlimited! Benarkah?
Menurut ahli ekonomi, kebutuhan manusia sifatnya tidak terbatas, sedangkan alat pemenuhan kebutuhan manusia jumlahnya terbatas. Kebutuhan manusia sifatnya seperti deret ukur sedangkan alat pemenuhan kebutuhan jumlahnya seperti deret hitung. Kebutuhan manusia yang katanya tidak terbatas tersebut, dipicu oleh pertambahan jumlah penduduk yang jumlahnya juga seperti deret ukur dan tidak bisa diprediksi. Selain itu, memang sifat manusia yang tidak pernah puas turut berkontribusi terhadap tidak terbatasnya kebutuhan manusia.
Apakah benar kebutuhan manusia memang unlimited? Apakah benar jika kita akan terus mengonsumsi satu jenis produk dalam jangka waktu yang lama dan dalam jumlah yang banyak hanya untuk diri kita sendiri? Apakah benar kita akan makan terus-menerus tanpa berhenti?
Memang benar, kebutuhan manusia terus meningkat. Mungkin akan lebih tepat bila kita katakan kalau kebutuhan manusia itu akan terus meningkat dan bukannya tidak terbatas. Kebutuhan manusia akan terus bertambah dan beragam, tapi kuantitas atau jumlah kebutuhan yang diinginkan untuk jenis yang sama tentu jumlahnya bukan unlimited. Apakah kita mungkin mengonsumsi bakso terus menerus tanpa jeda? Apa yang kita rasakan bila setiap hari dalam jangka waktu tiga bulan selalu mengonsumsi nasi goreng? Dalam ilmu ekonomi juga dikenal hukum Gossen yang membahas tentang kepuasan terhadap suatu barang atau jasa yang dikonsumsi. Menurut hukum Gossen tersebut, dikatakan bahwa sifat dari hampir semua manusia adalah tidak pernah puas. Ketika kita mengonsumsi sesuatu terus menerus, kita akan merasa bosan pada titik tertentu. Seperti pertanyaan di atas misalnya, apa yang terjadi bila setiap hari kita mengonsumsi nasi goreng? Sekalipun nasi goreng rasanya enak dan pada awalnya kita suka, namun bila kita konsumsi setiap hari tentu lama-lama kita akan bosan. Hal tersebut juga berlaku pada produk atau jasa lainnya.
Bagaimana agar kita tidak dilanda kebosanan? Salah satunya dengan mengatur apa yang kita konsumsi dan membuat variasinya. Sebagai akibatnya, bisa saja porsi konsumsi kita sama, namun dengan jenis yang berbeda.
Lalu, apa hubungan antara pengaturan keuangan pribadi dengan hal-hal yang telah diuraikan sebelumnya?
Kesimpulan dari uraian tersebut adalah setiap orang memiliki kemampuan untuk mengendalikan arus cashflow. Pada dasarnya, keinginan kita terhadap suatu barang atau jasa pasti akan mencapai titik limit. Misalnya, tidak selamanya kita akan menyukai benda A. Mungkin saja suatu ketika kita akan merasa bosan dan beralih ke B. Ingat, kebutuhan manusia akan selalu bertambah dan beragam, namun apakah keinginan kita terhadap sesuatu yang sama akan seterusnya tetap? Jawabannya adalah tidak! Itu sebabnya, kita memiliki potensi untuk mengoptimalkan penghasilan yang diperoleh dengan membelanjakannya secara bijak.
Mungkin kita akan bertanya, bagaimana agar penghasilan atau pendapatan yang diperoleh bisa cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup yang beragam tersebut?
Simak bagian selanjutnya!
Selanjutnya : Kebutuhan Real VS Kebutuhan Direncanakan
No comments
Post a Comment